Kelemahan Pemerintahan Presiden Jokowi Sudah Dibuka oleh Anak Buah Sendiri atas Kisruh Impor Beras

0
222
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Kedua pejabat ini secara bersama-sama bertugas membantu Presiden Jokowi dalam bidang dan tugas yang berbeda. Mereka adalah Budi Waseso dan Enggartiasto Lukita. Budi Waseso adalah Direktur Utama Perum Bulog, sedangkan Enggartiasto adalah Menteri Perdagangan Kaabinet Kerja.

Budi Waseso (Buwas) berbeda pendapat atau bahkan ‘berseteru’ dengan Enggartiasto Lukita terkait urusan impor beras.

Atas kasus tersebut, Partai Amanat Nasional (PAN) sangat menyayangkannya.

Adalah anggota Dewan Kehormatan PAN, Dradjad Wibowo. Ia menilai bahwa kekisruhan Buwas dan Enggar menjadi publikasi negatif bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Apalagi perdebatan keduanya terkait kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah. Bukankah mereka secara bersama-sama adalah membantu pemerintah walaupun beda tugas, pokok, dan fungsi.

“Jika sudah tahu impornya kebanyakan, kenapa tidak dikurangi? Jadi, ada masalah kompetensi pemerintah,” ujar Dradjad, kepada detikcom, Rabu (19/9/2018).

Menurut Dradjad, ‘Perseteruan’ Buwas dan Enggar, juga membuktikan rumor kerasnya benturan kepentingan antarsesama pembantu presiden. Hal itu, lanjut Dradjad, dapat ditafsirkan adanya proxy war antarpara tokoh besar di sekitar Presiden Jokowi.

“Kita kan paham Mas Buwas itu dekat dengan siapa, sementara Bang Enggar dengan siapa. Benar atau tidak, lagi-lagi hal ini menjadi publikasi negatif bagi Pak Jokowi,”  lanjut Dradjad.

Di samping itu, tambah Dradjad, kekisruhan tersebut membuktikan adanya kerusakan komunikasi antarakeduanya. Sebab, lanjutnya, jika sinergitas terjalin antara dua institusi negara itu maka perdebatan panas keduanya tak akan terjadi.

“Jika chemistry mereka bagus, apa sulitnya saling menelepon dan mencari solusi berdua. Yang terjadi malah mereka saling tikam di media,” ujar Dradjad.

“Jokowi dan Prabowo saja tidak ribut seperti itu,” sambungnya.

Selanjutnya, Dradjad meminta agar Presiden Jokowi turun tangan untuk mengatasi persoalan ini. Meskipun, menurutnya, hal itu sudah terlambat.

“Apakah Presiden harus segera turun tangan? Jelas. Sudah telat malah,” kata Dradjad.

Dari sudut pandang yang lain, Dradjad menilai bahwa kekisruhan antara Buwas  dan Enggartiasto ini malah membawa keuntungan bagi pasangan capres Prabowo-Sandiaga sebagai lawan Jokowi pada di Pilpres 2019. Mengingat bahwa isu impor beras merupakan isu seksi yang dapat dijadikan senjata dalam kampanye.

“Kubu Prabowo-Sandi sangat diuntungkan oleh keributan ini. Tanpa kami harus bicara keras, kelemahan pemerintahan Pak Jokowi sudah dibuka oleh anak buahnya sendiri. Masalah impor beras juga sangat seksi untuk menjadi isu kampanye,” tutur ekonom INDEF itu mengakhiri.

Terjadinya kegaduhan antara Buwas dan Enggartiasto bermula dari keluhan Bulog atas penuhnya gudangnya untuk menyimpan beras impor. Atas keluhan itu, Enggartiasto memberi tanggapan dengan mengatakan bahwa penuhnya gudang Bulog bukan menjadi urusan kementerian yang dipimpinnya.

Rupanya Buwas tidak terima atas tanggapan kementerian Perdagangan tersebut. Bahkan,  Buwas berang dengan mengatakan ‘matamu’ di tengah perdebatan soal impor tersebut terebut. Bahkan, Buwas mengatakan bahwa sesama lembaga negara haruslah bersinergi dan saling membantu.

Kegaduhan antarpejabat negara tersebut ditangkap oleh para pengamat. Akhirnya, ada pengamat yang menilai  bahwa Presiden Jokowi harus turun tangan mengatasi kekisruhan dua pejabat negara itu. Mengingat, bahwa kegaduhan ini terjadi di tengah panasnya tensi politik  jelas Pilpres 2019, maka jika jika Presiden Jokowi salah mengambil sikap  menjadi taruhannya adalah pada Pilpres  2019 itu sendiri.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here