Kasus SBY Vs Asia Sentinel dalam Pilpres 2019

0
110
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Laporan Asia Sentinel Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy oleh John Berthelsen, salah satu editor Asia Sentinel pada 11 September 2018 berhasil menggemparkan dunia politik nasional yang semakin dekat dengan Pemilu Presiden 2019.

Laporan tersebut berisi dugaan keterlibatan SBY, ketua Partai Demokrat terhadap kasus pencurian uang hasil pajak sejumlah 12 miliar dolar AS.

Mengetahui tuduhan ini, Demokrat pun merasa “panas”. Partai ini kemudian mengadukan Asia Sentinel pada Dewan Pers dan berniat untuk melakukan gugatan hukum.

Dalam pidato ulang tahun partai ke-17 (17/9), SBY menyampaikan bahwa ia tidak akan membiarkan pihak-pihak yang merusak nama baik partai meskipun itu merupakan pihak dari luar negeri. Ia bahkan rela mengejar hingga ke ujung dunia bagi mereka yang merusak dan menghancurkan nama baikpartai.

Laporan yang menggemparkan ini ternyata merupakan hasil investigasi dengan tebal 488 halaman sebagai dasar gugatan perusahaan Weston Capital Internastional ke MA Mauritius minggu lalu.

Weston merasa dirugikan atas proses penjualan Bank Century hingga gugatan pun dilayangkan. Laporan ini dibuat berdaarkan analisis forensik terhadap bukti-bukti yang telah dikompilasi oleh beberapa investigator dari pengacara dan investigator Jepang, Thailand, Singapura, Inggris, bahkan masih ada beberapa negara lain yang juga berkaitan, termasuk Indonesia.

Laporan itulah yang mendasari Berthelsen untuk menulis 30 pejabat Indonesia pemerintahan SBY diduga terlibat dalam skandal pencurian uang yang kemudian dicuci di beberapa bank luar negeri.

Laporan tersebut juga mengatakan kaitan Bank Century sebagi Bank SBY. Ia menyebutkan, diduga Bank Century telah menjadi gudang penyimpanan uang tarusan juga dolar AS di bawah kontrol dari SBY dan Partai Demokrat.

Geram dengan semua pemberitaan ini, Demokrat pun mengancam akan menggugat mereka. Hal inilah yang membuat laporan Berthelsen tidak lagi ditampilkan oleh Asia Sentinel. Penelusuran telah dilakukan, tapi link rujukannya menjadi baru, yaitu dengan judul, Asia Sentinel Story on Indonesian Corruption Goes Viral.

Meskipun sudah tidak ditemukan laporan tersebut di link sebelumnya, Demokrat terlanjur berang terhadap laporan yang merujuk pada mereka. Mereka menduga jika perubahan artikel merupakan buah dari ukti bukti propaganda Asia Sentinel. Beberapa elite Demokrat bahkan menganggap jika laporan Berthelsen ini merupakan salah satu bagian konspirasi mengenai degradasi partai.

Cuitan di akun Andi Arif, wakil sekretaris Jenderal Partai Demokrat langsung menunjuk pada hidung taipan Riady dan juga Bravo Lima sebagai pihak terkait yang berhubungan dengan pemberitaan Berthelsen yang memojokkan partai.

Seorang pemilik Lippo Group, James Riady merupakan perusahaan besar yang bekerja di bidang, seperti properti dan media yang bervariasi. Sedangkan, Bwavo dan Lina telah menjadi pendukung Jokowi dimana anggotanya termasuk Luhut Binsar Panjaitan dan Alwi Shihab. Tim ini sudah ada sejak 6 Juni 2018.

Andi Arief juga menyebutkan pihak-pihak yang berkaitan lainnya, yaitu Kantor Staf Presiden dan Lin Neumann. Ia menduga jika pihak tersebut telah melakukan kospirasi pemberitaan tentang SBY oleh Asia Sentinen. Tujuan dari pemberitaan ini disinyalir karena ingin menjatuhkan SBY dan Demokrat, terlebih pada tahun politik menjelang pilpres 2019.

Neumann tidak mau berkomentar lebih, ia tidak membantah ataupun membenarkan tudingan Andi Arief mengenai dirinya. Justru, Danang Jati sebagai Direktur Publik Lippo Group juga tidak mau mengangkat telepon dari CNNIndonesia.com. Bahkan, ia hanya membaca pesan singkat dari CNNIndonesia.com tanpa membalasnya. (Rico/Gus Anto/Viwi Yusya/Thoriq/Izzul/Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here