Kemelut Gudang Beras antara Mendag dan Buwas yang Tak Kunjung Selesai

0
49
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Perdebatan mengenai impor beras antara Mendag dengan Buwas tidak kunjung selesai dan bahkan menjadi persoalan klasik di Indonesia. Permasalahan ini bermula dari data beras yang memang belum bisa dituntaskan hingga sekarang. Hal ini disampaikan oleh Raja, Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN).

TKN sebenarnya tidak menutup mata atas permasalahan ini. Tapi, ia yakin bahwa Jokowi mampu menjadi juru damai dan menyelesaikan permasalahan ini. Raja mengatakan, bahwa masalah gudang beras ini memang sudah ada sejak lama dan sedang diusahakan oleh pak Jokowi secara sungguh-sungguh, meskipun masih ada sisa masalah yang belum terselesaikan secara tuntas dan masalah ini pun tidak dapat ditutupi.

TKN yakin bahwa masalah ini akan segera selesai dan kedua lembaga akan berkoordinasi sehingga tidak perlu ada ramai-ramai di publik. Perselisihan ini cukup meresahkan masyarakat karena berkaitan dengan kebutuhan pokok mereka, yaitu beras.

Buwas, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyindir mantan Dirut Buloh mengenai impor beras ke Indonesia, meskipun Buwas tidak menunjuk nama atau seseorang.

Pada 19 September 2018 di Kantor Pusat Bulog, ia menyebutkan bahwa ada yang menyatakan jika Bulog tetap impor, bahkan harus impor. Celakanya, justru mantan Dirut Bulog yang menyampaikan hal ini, padahal saat ini bukan laig masa kepemimpinannya.

Berdasarkan analisis yang diperoleh Buwas dari tim ahli independen, sebenarnya Indonesia tidak butuh mengimpor beras sampai Juni 2019. Ia pun menghimbau pada pihak yang berkaitan agar tidak mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat luas.

Enggartiasto Lukita, Menteri Perdagangan sebelumnya telah menyampaikan bahwa permasalahan gudang beras ini bukanlah permasalahan pemerintah. Mengetahui hal tersebut, Buwas mengaku bingung dengan pihak yang mengatakan jika masalah gudang beras ini bukanlah urusan pemerintah. Bakhan, ia tampak kesal dan sempat mengeluarkan makian khas Jawa.

Masalah beras ini sebaiknya tidak terus diperpanjang karena membuat resah masyarakat. Pihak yang berkaitan seharusnya bisa bekerja untuk kepentingan negara dan bangsa. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional. Ia menambahkan, sebaiknya semua pihak tidak asal bicara dan menjadi provokator dalam permasalahan ini.

Akibatnya, ia harus menyimpan beras dalam jumlah bayak pada gedung milik institusi negara lain dengan menyewanya. Selanjutnya, Buwas menyatakan, Bulog dan Kementerian terkait seharusnya bisa saling kerja sama dalam urusan negara ini agar tidak menimbulkan permasalahan.

Kini, cadangan beras Bulog suah mencapai 2,4 juta ton sehingga dana persewaan yang dibutuhkan juga cukup besar.

Permasalahan ini sepertinya semakin memanas dan belum juga mendapatkan titik temu. Mengetahui hal ini, Presiden Jokowi angkat bicara. Buwas dipilih karena berani, tegas, jujur dan mempunyai pengalaman dalam mengelola Bulog.

Ia juga menambahkan bahwa Perum Bulog merupakan BUMN yang strategis dan penting karena berhubungan dengan kebutuhan orang banyak sehingga tidak bisa dipimpin oleh sembarang orang, jadi cocok jika Buwas sebagai Direktur Utamanya. Ketetapan mengenai perubahan posisi ini termuat dalam surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: SK-115/MBU/04/2018 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota Direksi Perum (Perusahaan Umum) Bulog.

Selain Direktur Utama, posisi lain yang juga ditetapkan adalah Direktur Keuangan yang kini dipegang oleh Triyana. Selain itu, ketetapan ini juga berisi bahwa Teten Masduki telah diangkat sebagai Ketua Dewan Pengawas Bulog untuk menggantikan Sudar Sastro Atmojo. (Rico/Gus Anto/Viwi Yusya/Thoriq/Izzul/Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here