Kapitra Ampera Blak-Blakan Soal Ijtima Ulama II

0
210
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang tayang  di TVOne pada Selasa (18/9/2018) malam yang bertemakan “Ijtima Ulama II & HRS Dukung Prabowo Sandi: Perebutan Suara Umat Islam.” Narasumber yang dihadirkan pada malam itu adalah tokoh-tokoh yang terlibat dalam Ijtima  Ulama baik yang berada di kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno maupun yang di kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Kapita Ampera yang merupakan tokoh yang dari awal sudah terlibat dalam ijtima Ulama dan berada di Kubu Jokowi-Ma’ruf Amin ini blak-blakan soal ssikap yang diambil Ijtima Ulama didepan Eggy Sudjana dan Yusuf Martabak dan beberapa narasumber lainnya dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC)  malam itu.

“Ada adagium mengatakan begini. Jika elit saling rangkul dan rakyat saling pukul itu tanda elit bosan dengan rakyatnya. Jika rakyat saling rangkul dan elit saling pukul, maka rakyat akan muak dengan elitnya,” tutur Kapitra Ampera pada saat memulai komentarnya.

Karni Ilyas sebagai pembawa acara dalam acara Indonesia Lawyers Club pun menanyakan mengenai pandangan Kapitra Ampera terhadap persoalan politik yang terjadi saat ini.

“Yang terjadi sekarang, elit saling rangkul dan rakyat saling pukul. Mungkin elit sudah bosan dengan rakyatnya makanya dibuat ijtima,” jelas  Kapitra Ampera dalam acara ILC.

Kemudian Kapitra Ampera pun kembali menambahkan pendapatnya.

“Ijtima artinya kumpulan. Tapi ada lima hal yang bisa dipahami dari Ijtima Ulama. Satu, tidak semua yang kita inginkan bisa di dapatkan. Kadang kala apa yang didapat bukan yang diinginkan. Kedua, Ijtima Ulama adalah hasil maksimal dari GNPF Ulama, PA 212. Karena kalau kita ingin cari pemimpin yang sempurna itu hanya ada pada diri Rasul Allah. Tetapi saya bisa pahami turbulensi politik yang ada mengerus umat dan pimpinan umat. Dan yang saya pahami, parpol yang dukung aksi bela Islam, ternyata menunggangi aksi bela Islam. Itu bisa di pahami.”

Kemudian Kapitra Ampera pun melanjutkan, “yang tidak bisa di pahami, bagaimana mungkin aksi bela Islam ini yang dimulai 14/10, 4/11, 2/12, konteksnya penegakan hokum. Semua aksi itu bela Islam atas penistaan agama. Aksi 212 bukanlah demonstrasi, tetapi syukur karena penegakan hokum atas penista agama sudah ditegakkan dengan proporsional dan professional”.

“Saya pokir itu final. Tapi itu bergerak dinamis, terus berkembang menjadi kekuatan yang justru terbelenggu dalam polarisasi kepemimpinan.” Tambah Kapitra.

Kapitra Ampera pun kemudian menceritakan soal aksinya untuk melihat sikap dari partai politik yang saat ini getol berada di pihak bela Islam.

“Hanya ada satu orang yang harus dicalonkan menjadi capres di kelompok GNPF atau PA 212, ini tidak masuk akal. Maret saya ketemu dengan Habib Riziq Shihab (HRS) saya berbicara empat mata dengan beliau empat mata. Pulang, saya lapor. Saya membuat satu test case saya lempar #2019KapitraPresiden dan bikin kaosnya. Kawan-kawan merespons dengan menjadikan HRS for Presiden.” Tandasnya.

“Saya ingin mengetes parpol yang dukung aksi bela Islam ini, direspons atau tidak. Poling, apa ini layak jual atau tidak. Kalau saya tidak layak jual, mungkin naik keatasnya ke tingkat Baktiar Nasir atau Yusuf Marta atau Haikal Hasan. Tetapi langsung ke HRS For Presiden, maka dibentuk tim kecil relawan. Dan PA 212 melakukan poling siapa yang diminati dari tokoh yang ada untuk jadi presiden dari kelompok aksi bela Islam,” tuturnya.

“Rating Habib Riziq paling tinggi, diatas Prabowo, dan akhirnya dikeluarkan rekomendasi dari PA 212, yang kalau tidak salah ada enam balon presiden dan Sembilan bawapres, termasuk Eggy Sudjana. Calon presiden HRS, Prabowo, TGB, Zulkifli Hasan, Yusril, satu lagi saya lupa.” Tambah Kapitra Ampera pada malam itu. (Rico/Gus Anto/Viwi Yusya/Thoriq/Izzul/Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here