Rupiah Nyungsep, Sri Mulyani Salahkan Generasi Millenial

0
535
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Kurs jual dollar Amerika Serikat (AS) di sejumlah bank besar terpantau sudah menembus level Rp 15.000 pada Rabu (5/9/2018). Kondisi ini terjadi  menyusul melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Memang, nilai tukar (kurs) rupiah kian melemah dalam beberapa hari ini. Bahkan,  sempat menyentuh angka Rp 15.000 pada akhir September lalu. Melemahnya dollar tersebut mendapat tanggapan  beragam  dari berbagai kalangan. Mereka,  adalah ekonom, menteri keuangan, bahkan Presiden Jokowi.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang melemah itu disinggung oleh  Rizal Ramli dalam tayangan ‘Sapa Indonesia Malam’ di Kompas TV dengan tema ‘Rupiah Tembus ke Level 14.800’, Selasa (4/9/2018).

Rizal Ramli mengatakan bahwa dirinya sudah mengingatkan kondisi perekonomian Indonesia yang kian memburuk sejak setahun lalu.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Ramli itu menjelaskan bahwa nilai tukar dollar AS yang mendekati Rp 15.000 tersebut merupakan permulaan. Menurut dia kurs rupiah bisa melemah lebih dalam ke depannya.

“Ini baru awal doang Rp 15.000. Langkah Menkeu, Menko, dan menteri ekonomi lainnya behind the curve. BI (Bank Indonesia) saja yang ahead the curve,” ujar Rizal Ramli dalam sebuah diskusi di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Pendapat Presiden Jokowi berbeda terkait melemahnya nilai tukar rupiah teradap dollar AS.

Presiden Jokowi menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar terhadap dollar Amerika Serikat bukan hanya terjadi terhadap rupiah saja, tetapi juga  terhadap mata uang negara lain.

“Tidak hanya negara kita, Indonesia, yang terkena pelemahan kurs, tidak hanya Indonesia,” ujar Jokowi di Tanjungpriok, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018).

Menurut Jokowi, pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan oleh sentimen dari eksternal, seperti kenaikan suku bunga The Fed, perang dagang antara China dan Amerika Serikat, dan krisis yang melanda Turki serta Argentina.

“Ini faktor eksternal yang bertubi-tubi.”

“Saya kira yang paling penting kita harus waspada, kita harus hati-hati,” ujar Jokowi, dikutip TribunSolo.com dari Kompas.com.

Untuk menguatkan rupiah kembali, menurut Jokowi, pemerintah akan terus meningkatkan koordinasi di sektor fiskal, moneter, industri, dan para pelaku usaha.

“Saya kira koordinasi yang kuat ini menjadi kunci, sehingga jalannya itu segaris semuanya,” ujar Jokowi.

Presiden Jokowi juga memberi target kepada jajarannya untuk segera memperbaiki transaksi berjalan dengan menggenjot ekspor dan investasi di dalam negeri. Sebab, saat ini transaksi berjalan mengalami defisit 3 persen.

“Dengan investasi dan ekspor yang meningkat, kita bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan, kalau ini selesai, itu akan menyelesaikan semuanya,” ujar Jokowi

“Target saya sudah berikan agar dalam satu tahun, betul-betul ada perubahan di penyelesaian defisit transaksi berjalan,” lanjut dia.

Sementara itu, pendapat berbeda terkait melemahnya nilai tukar rupiah juga dikemukakan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyai. Salah satunya, menurut Sri Mulyani, adalah karena kebiasaan generasi millennial. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menilai melemahnya rupiah dikarenakan impor yang terus meningkat, khususnya impor makanan sehingga membuat defisit neraca perdagangan.

“Kita masih impor kopi, anak sekarang enggak ngopi enggak hidup. Kita aja masih impor teh. Seperti banyaknya impor dan demand bikin dollar supplai gede. Kalau demandnya lebih banyak impor. Maka, harga dollar akan mahal,” ujar Menkeu Sri Mulyani di Jakarta, Sabtu (29/9/2018).

Lebih lanjut Ia mengatakan, bahwa banyaknya impor jasa juga membebani ekonomi Indonesia. Salah satunya banyak masyarakat Indonesia yang memilih berlibur ke luar negeri sehingga ikut mempengaruhi rupiah.

“Kayak impor jasa itu mereka lebih memilih untuk berlibur ke luar negeri. Jadi, diuntungkannya keluar. Padahal lebih baik berlibur di Indonesia karena bisa meningkatkan pendapatan negara. Ini juga yang perlu diperhatikan,” tandasnya.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here