Manula di Hong Kong Banyak yang Menjadi Pemulung

0
193
Foto : ABC

Jakarta, namalonews.com – Hong Kong dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Namun di bawahnya, warganya yang mulai menua berjuang mempertahankan kehidupannya.

Buruknya jaminan sosial dan kebijakan pensiun di Hong Kong telah membuat banyak warga manula harus kembali bekerja. Meskipun usianya telah beranjak 90 tahunan, mereka terus bekerja keras menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Perempuan  yang dikenal dengan sebutan “cardboard grannies”, itu berkeliaran di jalanan untuk memulung kardus dan kertas bekas dari toko-toko dan pasar untuk dijual ke pabrik daur ulang seharga kurang dari Rp 1.300 per kilogram.

Menurut sebuah survei terbaru yang dilakukan kepada 505 pemulung kardus, oleh kelompok advokasi Waste Picker Platform, delapan dari sepuluh perempuan tersebut telah berusia lebih dari 60 tahun.

Peneliti telah bicara kepada mereka di 11 distrik di Hong Kong, yang rata-rata menghabiskan lima setengah jam sehari untuk mengumpulkan kardus dengan imbalan tidak lebih dari Rp 60 ribu. Usia paling tua dari yang pernah diwawancarai berusia 96 tahun.

Sekitar 90 persen responden mengatakan, mereka mulai mengumpulkan kardus-kardus untuk alasan ekonomi. Sekitar 25 persen diantaranya mengaku untuk memenuhi kebutuhan dasar. Hidup mereka tergantung pada pengumpulan kardus bekas.

Pemerintah tidak cukup membantu mereka yang butuh bantuan keuangan. Tunjangan pemerintah seringkali tidak cukup untuk menutup biaya sewa di salah satu kota paling mahal di dunia.

Menurut data resmi pemerintah Hong Kong, tunjangan Hari Tua sebesar sekitar Rp 4,6 juta per bulan, tetapi subsidi untuk rumah sewa kurang dari Rp 3 juta. Sementara itu, upah minimum di Hong Kong adalah lebih dari Rp 60 ribu per jam.

Penulis : Agus Yanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here