Jelang Liburan Natal dan Tahun Baru, Kemenhub Batasi Mobil Angkutan Barang

0
183
Foto : ist

Jakarta, namalonews.com – Kementerian Perhubungan akan menerapkan pembatasan operasional untuk mobil barang selama libur perayaan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.

Direktur Lalu Lintas Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Pandu Yunianto mengatakan, kebijakan ini diterapkan untuk mencegah kemacetan lalu lintas.

“Jadi nanti mobil barang sumbu tiga atau lebih dan termasuk mobil barang yang mengangkut bahan galian tanah, pasir, batu, dan bahan bangunan, nanti tanggal 21 dan 22 itu dilarang untuk beberapa ruas jalan tol,” kata Pandu, di Menara 165, Jakarta Selatan, Senin (26/11/2018).

Libur Natal dan Tahun Baru kali ini diperkirakan mencapai 7,77 juta dari sebelumnya 7,59 juta orang. Peningkatan ini terjadi lantaran dalam periode tersebut bersamaan dengan cuti bersama dan liburan anak sekolah.

Untuk angkutan darat diperkirakan akan mengalami penurunan jumlah penumpang sebesar 5,66 persen dari 4,42 juta penumpang menjadi 4,41 juta.

Namun penurunan jumlah penumpang angkutan darat ini terkompensasi oleh peningkatan penumpang untuk angkutan sungai dan penyeberangan (SDP) sebanyak 13,52 persen dari 3,16 juta menjadi 3,59 juta penumpang.

Arus puncak mudik natal tahun ini diprediksi akan terjadi pada hari Sabtu (22/12/2018) dan puncak arus balik natal 2018 akan terjadi pada Selasa (25/12/2018).

Sementara puncak arus mudik tahun baru 2019 diprediksi akan terjadi pada Jumat (28/12/2018) dan arus balik tahun baru diperkirakan akan terjadi pada Selasa (1/1/2019).

Aturan tersebut akan berlaku bagi mobil barang dengan Jumlah Berat yang Diizinkan (JBI) lebih besar atau sama dengan 14.000 kilogram, mobil barang dengan sumbu tiga atau lebih, mobil barang dengan kereta gandengan, dan mobil barang pengangkut bahan galian (tanah, pasir, batu), bahan tambang, dan bahan bangunan (besi, semen, kayu).

Namun, larangan tersebut tidak berlaku bagi truk pengangkut BBM atau BBG, pengangkut barang ekspor dan impor dengan rute dari dan ke pelabuhan, pengangkut ternak, pupuk, serta pengantar pos dan uang.

Selain itu, pengecualian juga berlaku bagi truk pengangkut bahan pokok seperti beras, terigu, jagung, gula, sayur, buah-buahan, daging, ikan, minyak goreng, mentega, susu, telur, dan garam.

Penulis : Muhammad Izzul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here