Di Penghujung 2019 Gunung Anak Krakatau pun Bergetar

0
1011
Foto : titik ID

Jakarta, namalonews.com – Di akhir tahun 2019, Gunung Anak Krakatau, yang berada di Selat Sunda dan lama tidak menunjukkan aktivitasnya, akhirnya bergetar mengeluarkan lava dan mengakibatkan terjadinya tsunami di wilayah Banten dan Lampung.

Peristiwa itu membawa korban harta benda dan jiwa. Rumah-rumah dan gedung yang berada di bibir pantai pun tersapu ombak. Beberapa orang meninggal dunia akibat air laut yang tiba-tiba menerjang.

Sampai Jumat ini (28/12/2018) status Gunung Anak Krakatau meningkat menjadi siaga 3. Beberapa kali gunung yang berada di tengah-tengah laut itu mengeluarkan dentuman keras.

Menurut catatan, 40 tahun setelah meletusnya gunung Krakatau pada 1883, Anak Krakatau pun muncul pada 1927. Kemunculannya terjadi karena kawasan kaldera gunung Krakatau yang meletus pada 1883 masih terus aktif mengeluarkan magma.

Lava yang keluar dari dalam kantong magma tersebut membeku dan terus tertimbun sehingga diistilahkan terus tumbuh. Anak Krakatau bertambah tingginya akibat material yang keluar dari perut gunung.

Seperti dikutip dari laman Universitas Oregon State, Amerika Serikat, gunung ini tumbuh rata-rata 8,9 meter per tahun atau 70 cm per bulan. Menurut catatan Volcano Discovery, tinggi Krakatau saat ini sudah mencapai 813 meter di atas permukaan laut (m dpl). Padahal pada 1935 tinggi gunung ini hanya 63 meter saja.

Anak Krakatau tercatat sudah meletus sebanyak 46 kali setelah ledakan besar 1883. Sejak Juni 2012, gunung ini tercatat mengakibatkan gempa vulkanik 1075 kali, pada Juli turun menjadi 807 kali, namun meningkat pada Agustus menjadi 2.335 kali pada tahun itu.

Penulis : Gus Anto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here