Rutan Bagansiapiapi Over Kapasitas, Penghuni Tidur Menggantung Seperti Kelelawar

0
199
Foto : ist

Jakarta, namalonews.com – Over kapasitas penghuni rutan masih menjadi permasalahan. Yang paling baru, penghuni Rutan Bagansiapiapi terpaksa harus tidur menggantung seperti kelelawar. Komisi III DPR mengatakan sebaiknya kasus-kasus dengan ancaman hukuman ringan tidak perlu sampai ditahan.

“Ngapain jauh-jauh ke Bagansiapiapi. Di Cipinang saja itu sudah pada tidur di lantai karena over kapasitas. Jadi ngapain jauh-jauh ke Bagansiapiapi. Di Cipinang, di Salemba semua over capacity,” ujar Wakil Ketua Komisi III, Mulfachri Harahap, Rabu (02/1/2019).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Ditjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM, kapasitas Rutan Bagansiapiapi adalah sebanyak 98 orang. Namun faktanya rutan tersebut dihuni 810 orang. Tidak hanya rutan Bagansiapiapi yang melebihi kapasitas, Rutan Takengon dan Lapas Tarakan juga melebihi.

Mulfachri menjelaskan butuh kemauan atau ‘will’ dan keberanian untuk membuat terobosan baru dalam menangani persoalan over kapasitas yang tidak kunjung berakhir itu. Jika tidak, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah, khususnya Kemenkum HAM, maka tidak akan berbuah manis.

Misalnya, dengan merelokasi lapas-lapas yang sudah over kapasitas. Menurut Mulfachri, langkah itu bisa mengurangi persoalan yang menjadi momok dalam setiap pemerintahan.

“Kalau misalnya dibilang nggak ada anggaran, saya bisa paham memang kita nggak punya anggaran. Tapi kan di beberapa lokasi itu kan posisi atau letak LP itu kan di daerah-daerah strategis. Hampir semua LP yang dibangun di bawah tahu 50 atau tahun 60 itu posisinya di tengah kota dan punya nilai komersial yang tinggi. Di-ruslah (tukar menukar tanah) kan bisa. Kan katanya takut akan timbul masalah hukum di kemudian hari, panggil aja appraisal, libatkan Kejaksaan Agung, libatkan KPK. Ini mau di-apprais berapa, mau dinilai berapa. Kemudian dana yang dari alih kepemilikan itu dipakai untuk membangun kan bisa teratasi masalah ketiadaan dana itu,” tuturnya.

“Kalau misalnya relokasi dinilai terlalu jauh dari kota, keluarga yang mau membesuk susah, ya sediain dong transportasinya. Justru dengan demikian malah bisa dikontrol siapa yang datang,” imbuh Mulfachri.

Penulis : Thoriq Naghi Irawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here