Korban Tsunami Selat Sunda Rawan Gigitan Ular

0
135
Foto : Kutv.com

Jakarta, namalonews.com – Tsunami Selat Sunda yang menerjang Banten dan Lampung telah memporak-porandakan bangunan dan juga membuat ratusan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Derita para pengungsi tidak sampai disana saja. Penyakit diare dan tifus banyak dijumpai pada masyarakat. Bahkan mereka yang telah mengungsi pun rawan terhadap gigitan ular berbisa.

Korban gigitan hewan melata tersebut banyak dijumpai di beberapa rumah sakit dan puskesmas. Menurut catatan ada 14 kasus gigitan ular yang tercatat hingga 31 Desember 2018 di Pandeglang, Banten.

Korban gigitan ular ada di Puskesmas Munjul (3 kasus), di Puskesmas Labuhan (2 kasus), Puskesmas Panimbang (1 kasus), di Puskesmas lain (3 kasus), di RS Berkah (1 kasus),dan Puskesmas Cibitung (4 kasus).

Ancaman gigitan ular pasca bencana memang umum terjadi karena habitat yang rusak dan terganggu. Setiap bencana alam dipastikan akan ada ancaman gigitan ular.

Sementara itu, Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kementrian Kesehatan, dr. Achmad Yurianto, dalam siaran persnya berpesan agar warga lebih berhati-hati saat membersihkan puing di reruntuhan rumah.

“Kalau mulai bersih-bersih pada awalnya jangan menggunakan tangan langsung, gunakan kayu dahulu pastikan tidak ada ular, baru pakai tangan,” ujar Yuri.

Menurut Yuri, akibat terjadinya tsunami, sarang ular terusik dan hewan melata ini menyebar, berpindah tempat ke tumpukan sampah atau puing.

Penulis : Gus Anto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here