Pati Siapkan Sumur Pantek dan Tandon Air untuk Hadapi Kemarau

0
72
Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) A Fachri Radjab menjelaskan kondisi cuaca saat ini dan prediksinya selama sepekan, Senin (4/1), di Kantor BMKG, Jakarta. Potensi hujan di Jawa saat ini hanya intensitas ringan-sedang, tetapi berpotensi terus meningkat menjadi sedang-lebat, terutama di akhir pekan ini. Kompas/Johanes Galuh Bimantara (JOG) 04-01-2016

Jakarta, namalonews.com – Pemerintah Kabupaten Pati melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan beberapa persiapan menuju datangnya musim kemarau 2019 yang diprediksi akan berlangsung lama.

Kepala BPBD Pati, Sanusi mengatakan dalam waktu dekat pemerintah akan bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) setempat untuk membuat sumur pantek di 5 titik wilayah rawan kekeringan di Pati.

“Bantuan dari BBWS ini gambarannya tahun ini ada 5 titik. Itu tersebar di kecamatan berbeda-beda, sehingga ini nanti yang diharapkan bisa membantu menanggulangi kekeringan,” jelas Sanus, Kamis (4/4/19).

Tidak hanya sumur pantek, ia juga mengatakan ada 2 unit tandon air berkapasitas 7 ribu liter  yang telah dibangun di belakang kantor BPBD Pati, dan di kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Pati.

“Kalau berdasarkan perkiraan ini diprediksi mulainya Mei mungkin ya, dan puncaknya antara bulan Agustus sampai Oktober. Dibanding tahun lalu kondisi ini relatif sama. Tergantung nanti kondisi riilnya seperti apa,” katanya.

Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jawa Tengah, Pati menjadi salah satu wilayah yang diprediksi  akan terjadi musim kemarau lebih panjang. Jika berkaca pada tahun lalu, musim kemarau yang terjadi di Kabupaten Pati mengakibatkan sebanyak 128 desa yang ada di 10 kecamatan mengalami kekeringan.

“Justru anggaran yang kami terima tahun ini ada penurunan dibanding tahun lalu, sekitar 40 persen. Sehingga nantinya dalam upaya penanggulangan kebencanaan bisa kita upayakan di tingkat desa terlebih dahulu, juga melalui para pelaku usaha dari CSR,” pungkasnya.

Penulis : Thoriq Naghi Irawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here