Menguak Keterlibatan ‘Tim Mawar’ Saat Kerusuhan 1998 dan 2019

0
78
Ilustrasi : Alinea.ID

Jakarta, namalonews.com – Setelah kerusuhan Mei 1998, jejak Tim Mawar kembali terlihat. Nama tim itu kembali muncul dalam artikel Majalah Tempo perihal dugaan keterlibatan dalam kerusuhan di beberapa titik di Jakarta, 21-22 Mei 2019.

Dalam artikel edisi 10 Juni 2019 itu, salah satu mantan anggota Tim Mawar Fauka Noor Farid diduga terkait dengan aksi kerusuhan tersebut dan disebutkan berada di sekitar Gedung Bawaslu saat kerusuhan.

Dugaan tersebut juga diperkuat dua sumber di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut laporan Tempo, sebuah sumber menyebut Fauka ikut merancang demonstrasi di Bawaslu tersebut. Rapat terkait perencanaan aksi itu dilakukan di kantor BPN, Jakarta Selatan.

Artikel Tempo tersebut kemudian direspon mantan Komandan Tim Mawar Mayjen TNI (Purn) Chairawan yang melaporkan Majalah Tempo kepada Dewan Pers, Selasa (11/6/2019).

“Tim Mawar, seperti yang saya katakan di depan, sudah bubar sejak 1999 dengan adanya keputusan pengadilan. Bagaimana keadaan masing-masing, kerja masing-masing,” ungkap Chairawan.

Ilustrasi : gesuri.id

Sementara itu kuasa hukum Chairawan, Herdiansyah mengatakan, laporan tersebut menghakimi Tim Mawar secara keseluruhan terlibat dalam aksi tersebut.

“Di sini beliau merasa dirugikan secara pribadi karena beliau ex dari Tim Mawar yang menurut beliau langsung men-judge bahwa Tim Mawar ini terlibat dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019,” ungkap Herdiansyah.

Tim Mawar dikenal sebagai sebuah tim dalam Kesatuan Komando Pasukan Khusus Grup IV TNI AD. Tim ini diduga melakukan penculikan aktivis dalam tragedi 1998.

Dikutip dari laman Tribun Timur, tim Mawar dibentuk oleh Mayor Bambang Kristiono pada Juli 1997. Target tim ini adalah memburu dan menangkapi aktivis radikal.

Tim Mawar adalah dalang dalam operasi penculikan para aktivis politik pro-demokrasi pada 1998. Setelah operasi penculikan aktivis terbongkar, para personel Tim Mawar diseret ke pengadilan

Setidaknya ada 11 anggota Tim Mawar yang diajukan ke Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) II pada bulan April 1999 lalu.

Saat itu Mahmilti II Jakarta yang diketuai Kolonel CHK Susanto memutus perkara nomor PUT.25-16/K-AD/MMT-II/IV/1999 yang memvonis Mayor Inf Bambang Kristiono (Komandan Tim Mawar) 22 bulan penjara dan memecatnya sebagai anggota TNI.

Pengadilan juga memvonis Kapten Inf Fausani Syahrial (FS) Multhazar (Wakil Komandan Tim Mawar), Kapten Inf Nugroho Sulistiyo Budi, Kapten Inf Yulius Selvanus dan Kapten Inf Untung Budi Harto, masing-masing 20 bulan penjara dan memecat mereka sebagai anggota TNI.

Sedangkan, 6 prajurit lainnya dihukum penjara tetapi tidak dikenai sanksi pemecatan sebagai anggota TNI.

Mereka adalah Kapten Inf Dadang Hendra Yuda, Kapten Inf Djaka Budi Utama, Kapten Inf Fauka Noor Farid masing-masing dipenjara 1 tahun 4 bulan.

Sementara Serka Sunaryo, Serka Sigit Sugianto dan Sertu Sukadi hanya dikenai hukuman penjara 1 tahun.

Menurut pengakuan Komandan Tim Mawar, Mayor Bambang Kristiono di sidang Mahkamah Militer, seluruh kegiatan penculikan aktivis itu dilaporkan kepada komandan grupnya, yakni Kolonel Chairawan K Nusyirwan.

Namun, sang komandan tidak pernah diajukan ke pengadilan sehingga tidak bisa dikonfirmasi.

Penulis : Gus Anto

Ilustrasi 1 : Alinea.ID

Ilustrasi 2 : gesuri.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here