Kemenhub Kaji O-Bahn Sebagai Alternatif Angkutan Massal

0
65
Foto : Railway Enthusiast Digest

Jakarta, namalonews.com – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat ini tengah mengkaji angkutan massal yang merupakan gabungan antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) bernama O-Bahn.

O-Bahn diharapkan bisa menjadi alternatif pilihan angkutan massal. Moda ini diklaim lebih efisien dari Transjakarta, kendati modal pembangunannya bisa lebih mahal.

“Untuk bangun LRT itu biayanya Rp 500 miliar per km, apalagi kalau bangun MRT. ‎Untuk O-Bahn, biayanya 30 persen (lebih mahal) dibandingkan busway, tapi lebih murah dibandingkan LRT,” ujar Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri di acara Ngobrol Seru Transportasi Kementerian Perhubungan di Jakarta Selatan, Minggu (23/6/2019).

Berdasarkan referensi yang digunakan Kementerian Perhubungan, biaya modal untuk O-Bahn adalah A$ 0,14 per penumpang per kilometer dengan rata-rata panjang lintas 11 kilometer.

Foto : minews.ID

Sementara biaya operasinya adalah sebesar A$ 0,22 per penumpang per kilometer, sehingga biaya totalnya adalah A$ 0,36 per penumpang per kilometer.

Sedangkan kereta dengan panjang lintas rata-rata 20 kilometer biaya modalnya adalah A$ 0,26 per penumpang per kilometer dan biaya operasi A$  0,19 per penumpang per kilometer. Sehingga biaya totalnya adalah A$ 0,45 per penumpang per kilometer.

O-Bahn juga lebih unggul dari BRT biasa karena memakai lintasan khusus yang kecepatannya bisa lebih cepat. Contoh, saat ini O-Bahn sudah diterapkan di Nagoya, Jepang.

Bus yang sebelumnya hanya bisa menempuh kecepatan 12 kilometer per jam, kini bisa mencapai 30 kilometer per jam.

“Selama ini bus way masih ikut dalam kemacetan. Ini bisa di atas kecepatan 60 km per jam, bahkan dengan bus tingkat bisa 80 km per jam dengan jalur khusus. Ini solusi pengangkutan massal di wilayah perkotaan,” jelas Zulfikri.

Penulis : Gus Anto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here