Bukan Hanya M Nasir, Dua Adiknya Diduga Terlibat Gratifikasi DAK

0
333
Foto : ivooxid

Jakarta, namalonews.com – Tidak hanya Muhammad Nasir, namun berdasarkan informasi yang diperoleh dari Komisi Pemberantasan korupsi (KPK), adik kandung M Nasir, yakni terpidana perkara wisma atlet, Muhammad Nazaruddin serta Muhajidin Nur Hasim diduga kuat mengetahui banyak ihwal gratifikasi juga melibatkan Anggota Komisi VI Bowo Sidik Pangarso.

Sebagaiman keterangan juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK,“Pemanggilan Nazaruddin, M Nasir dan satu orang lagi itu lebih terkait pada kebutuhan KPK untuk mendalami informasi terkait pengurusan anggaran DAK yang salah satunya seingat saya di Riau ya di Kabupaten Meranti,” kata Febri di Jakarta ( 19/07/19)Jumat lalu.

Dalam keterangannya menurut Febri, Lembaga Antirasuah itu sudah memiliki bukti kuat jika DAK Kabupaten Meranti menjadi proyek Bowo Sidik.

“Kami menduga dalam penelusuran sumber-sumber dana gratifikasi ini ada salah satu sumber yang memiliki keterkaitan dengan pengurusan anggaran DAK tersebut,” ujarnya.

Febri belum menjelaskan lebih jauh keterlibatan M Nasir dan kedua adiknya. Hal ini dikarenakan Nazaruddin masih menjalani masa hukumannya di Lapas. “Saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh karena mereka kan belum diperiksa ya,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama menurut  Febri, pihaknya juga menjadwalkan pemeriksaan Komisaris Utama PT Fahreza Duta Perkasa, Aan Ikhyaudin, terkait dengan kasus dugaan suap kerja sama penyewaan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan tersangka Indung. Yakni  orang kepercayaan Bowo.“Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut karena yang bersangkutan (Aan) tidak hadir,” ungkapnya.

“Jika penyidik membutuhkan keterangan tambahan, tentu yang bersangkutan akan dipanggil kembali,” tukasnya.

Sebagaimana kita ketahui saat pemanggilan KPK, M. Nazarudin dan adiknya yakni Muhajidin Nur Hasim tidak hadir. Dengan alasan sakit.

Bowo Sidik Pangarso merupakan anggota Komisi VI DPR RI jadi tersangka dalam kasus dugaan suap terkait kerja sama penyewaan kapal dari PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG

KPK telah menemukan bukti  sumber gratifikasi terkait pengurusan DAK. Dugaan ini diperkuat dengan penggeledahan ruang kerja Nasir pada 4 Mei 2019 yang dilakukan oleh pihak KPK.

Bowo Sidik, Indung dan Marketing manager Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Asty Winasti ditetapkan sebagai tersangka. Bowo dan Idung sebagai penerima sedangkan Asty pemberi suap.

Selaku penerima suap, Bowo dan Indung disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Penulis & Editor: Sulis Sutrisna, S.Pd., S.E., M.M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here