Ibukota Pindah ke Kaltim, RTH Akan Dibangun di Istana

0
34
Foto : grid.id

Jakarta, namalonews.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan ibu kota Republik Indonesia bakal dipindah ke Kalimantan Timur (Kaltim) yakni Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara. pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur ini diumumkan Presiden Jokowi pada Senin (26/8/2019). Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan semoga pemindahan ibu kota menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta.

Ruang Terbuka Hijau itu diharap Anies bisa dibuat di area bekas kantor pemerintah pusat yang tak lagi digunakan, yang nantinya lokasi strategis disitu dapat dijadikan taman.

“Mudah-mudahan dengan adanya perpindahan itu lebih banyak ruang terbuka hijau, itu bekas-bekas kantor mudah-mudahan menjadi taman di tempat-tempat yang strategis, kan bagus taman-taman tempat strategis,” ungkap Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (27/8/2019).

Selain untuk RTH, gedung-gedung yang ditinggalkan itu disebut Anis juga bisa dijadikan perkantoran. Jika menjadi kantor, maka akan ada pergerakan ekonomi karena ada kegiatan konstruksi yang membutuhkan tenaga kerja.

“Bisa juga sebagian jadi kantor. Kalau jadi kantor artinya ada kegiatan konstruksi, kalau ada kegiatan konstruksi artinya ada pergerakan ekonomi. Lebih banyak lagi yang bekerja. Jadi mudah-mudahan lahan-lahan yang tidak dipakai nantinya bisa dipakai untuk RTH taman-taman di pusat-pusat kota,” kata Anies.

 

Anies pun yakin kegiatan perekonomian di Jakarta tetap berjalan meski ibu kota dipindah ke Kalimantan Timur. Dia menyebut Jakarta diarahkan menjadi pintu gerbang Indonesia bagi pebisnis tingkat global.

“Jadi kita di Jakarta apa pun keputusan (soal) ibu kota, pembangunan diteruskan, kemajuan perekonomian insyaallah jalan terus, ada pariwisata, bisnis tetap jalan dan Jakarta diarahkan menjadi pintu gerbang Indonesia untuk kegiatan bisnis global jadi pusatnya kesini,” ujar Anies.

Selain itu, Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Isran Noor menepis kekhawatiran sejumlah pihak bahwa dua daerah yang akan menjadi ibu kota baru rawan banjir, sulit air tanah, dan berpotensi terkena gempa. Sebab Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kertanegara berada di ketinggian 50 meter di atas permukaan laut.

Ini berbeda dengan Samarinda yang pada Juni lalu sempat terendam banjir. Isran menyebut banyak orang tak paham dengan kondisi geografis wilayahnya dan soal penyebab banjir di Samarinda. Sekitar 20-25 persen wilayah itu memang ada cekungan, rendah sehingga mudah terjadi banjir.

“Samarinda itu sejak kuda makan tembaga hingga makan mentega ya begitu karena ada cekungan. Tapi itu (dua daerah calon ibu kota) jaraknya jauh, sekitar 70 kilometer,” ucap Isran kepada Tim Blak blakan detik.com, Rabu (28/8/2019).

Terkait analisis Badan Metrologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut kawasan Kaltim tidak bebas dari ancaman gempa, Isran juga menepisnya. Sepanjang hidupnya di bumi Kaltim, lelaki kelahiran Sangkulirang, 20 September 1957 ini mengaku tak pernah mengalami gempa.

Di Kalimantan Timur, kata Isran, hanya beberapa wilayah di bagian ujung timur yang biasa terkena dampak dari gempa yang ditimbulkan akibat adanya patahan sesar Palukoro. Sesar ini membelah Sulawesi menjadi dua, dimulai dari batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar hingga ke Teluk Bone.

“Saya endak tahu, BMKG dapat pengetahuan dari mana itu jangan-jangan hoaks. Kalau menurut sumber gempa yang menurut sumber pengetahuan yang sudah teruji, mana ada patahan di situ,” sambung Isran.

Soal pasokan air tanah, Isran menyebut banyak waduk dan sumber air di sekitar dua daerah Penajam dan Kutai. Diantara lain merujuk waduk yang pernah dibangun PT ICTI yang kini dikuasai Prabowo Subianto. Waduk itu ikut memasok air ke Balikpapan dengan kapasitas 6000 liter per detik. Soal kondisi masyarakat, Isran juga menyebutkan cukup heterogen dan tak pernah terjadi konflik berlatar belakang SARA.

Penulis : Muhammad Rizal Rumra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here