Iran Bantah Tuduhan AS Terkait Serangan ke ARAMCO

0
93
Foto : koranjakarta.com

Jakarta, namalonews – Iran dan Arab Saudi terlibat dalam perang di Yaman yang sudah berlangsung kurang lebih empat tahun. Arab Saudi mendukung koalisi pasukan pemerintah yang memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran. Pemberontak Houthi sebelumnya memang beberapa kali melakukan serangan lintas perbatasan dengan drone. Namun kalangan intelijen menilai, jarak antara lokasi mereka di Yaman dan lokasi kilang minyak yang diserang di Arab Saudi terlalu jauh untuk jangkauan drone yang dimiliki pemberontak Houthi.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Minggu (15/9/2019) menuduh Iran berada di belakang serangan rudal atau drone terhadap kilang minyak terbesar di Arab Saudi itu, walaupun sebelumnya pemberontak Houthi di Yaman mengklaim mereka yang melakukan serangan itu.

Di Twitter Trump mengatakan “ada alasan untuk percaya bahwa kita tahu pelakunya,” dan menambahkan bahwa Washington “sudah siap perang”, sambil menunggu informasi lebih lanjut dari Arab Saudi.

Inilah pertama kalinya Donald Trump menyatakan siap mengerahkan militer AS untuk menjawab serangan ke kilang minyak Arab Saudi yang menyebabkan produksi minyaknya bisa turun sampai setengahnya.

Citra satelit yang dirilis AS dan diperiksa kantor berita AP menunjukkan sekitar 17 “titik sasaran ledakan” di fasilitas pemrosesan minyak di Abqaiq. Dua titik ledakan lainnya ditemukan di fasilitas Khura Saudi.

Pejabat senior AS mengatakan kepada wartawan bahwa kerusakan mengindikasikan serangan itu kemungkinan diluncurkan dari Irak atau Iran, dan bukan dari Yaman.

Pejabat yang tidak mau disebut identitasnya itu menerangkan kepada kantor berita Reuters, ada indikasi bahwa serangan itu dilakukan dengan rudal jelajah. Sedangkan pemberontak Houthi mengklaim mereka menyerang dengan menggunakan drone.

Pemerintah Iran tidak terima dengan tuduhan AS sebagai pelaku serangan besar-besaran terhadap kilang minyak terbesar Arab Saudi. Teheran berpendapat tuduhan itu sengaja dilontarkan sebagai dalih bagi AS untuk bertindak terhadap Iran.

“Tuduhan-tuduhan ini dikecam sebagai (tuduhan) yang tidak dapat diterima dan sama sekali tidak berdasar,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi dalam konferensi pers yang disiarkan di stasiun televisi negara setempat, Senin (16/9/2019).

Mousavi juga mengatakan bahwa tuduhan AS atas serangan terhadap kilang minyak Aramco, Arab Saudi di Abqaiq dan Khura dimaksudkan untuk membenarkan tindakannya terhadap Iran.

Fasilitas kilang minyak Aramco di Abqaiq dan Khurais diserang pesawat nirawak secara besar-besaran pada Sabtu pagi pekan lalu. Kilang minyak di Abqaiq adalah yang terbesar yang dimiliki Saudi dan salah satu yang terbesar di dunia. Saudi sejauh ini tidak mengidentifikasi pelaku serangan pesawat nirawak dan hanya menyebutnya sebagai serangan teroris.

Kelompok pemberontak Houthi Yaman telah mengklaim sebagai pelaku serangan. Namun, para pejabat tinggi AS tak percaya dengan klaim Houthi. Para pejabat tersebut, termasuk Menteri Luar Negeri Michael Pompeo, menuduh Iran sebagai pelakunya.

Seorang pejabat senior administrasi Trump yang berbicara kepada ABC News dalam kondisi anonim mengatakan selusin rudal jelajah dan lebih dari 20 pesawat nirawak diluncurkan Iran dari wilayahnya terhadap dua lokasi kilang minyak di Saudi.

“Itu adalah Iran. Para Houthi mengklaim pujian atas sesuatu yang tidak mereka lakukan,” sambung Mousavi.

Pompeo melalui Twitter meragukan klaim Houthi. Dia terang-terangan menuduh Iran sebagai pelakunya. “Tidak ada bukti serangan datang dari Yaman,” tulis Pompeo di Twitter.

Penulis : Muhammad Rizal Rumra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here